Jakarta, INDONEWS.ID - Sebuah unggahan reflektif dari Markus R.A. Kepra Prasetyo, mantan pejabat di Direktorat Program dan Berita TVRI, menjadi sorotan usai ia membagikan pengalamannya selama masa tugas di TVRI dari tahun 2014 hingga 2017.

Dalam unggahan Facebook yang penuh semangat dan kenangan itu, Markus menyoroti pentingnya peran musik sebagai jembatan budaya dan sosial, serta betapa strategisnya kolaborasi dalam memperkuat lembaga penyiaran publik.

Markus memulai unggahannya dengan menyebut fitur “Memories” di Facebook sebagai pemicu ingatan terhadap salah satu momen penting: konser CHASEIRO Live di TVRI pada 30 Mei 2015.

Konser tersebut, menurutnya, bukan sekadar pertunjukan nostalgia, tetapi simbol kuat kolaborasi antar generasi dan pelestarian nilai-nilai kebangsaan melalui musik.

“CHASEIRO dengan musik jazzy dan lirik idealisnya menjadi contoh bagaimana nilai dan identitas bisa tetap hidup melalui siaran publik,” tulis Markus.

Tak hanya CHASEIRO, berbagai kolaborasi lainnya pun diceritakan, seperti proyek ITB Menyanyi BIMBO, konser God Bless, pertunjukan Titiek Puspa & Duta Bangsa, hingga ulang tahun SLANK yang digelar di Auditorium TVRI.

Ia menekankan bahwa TVRI, sebagai lembaga penyiaran publik, mengemban lima peran utama: penyedia informasi, pendidikan, hiburan sehat, kontrol sosial, dan pelestari budaya.

Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, TVRI tetap mampu memproduksi program musik bermutu lewat semangat kolaborasi dan prinsip quality of spending.

“TVRI bukan SCTV atau RCTI. Kami tidak punya kemewahan produksi seperti mereka. Tapi kami punya positioning yang jelas dan semangat untuk tetap menyajikan tayangan bermakna,” ungkapnya.

Salah satu program musik yang mendapat sorotan khusus adalah Taman Buaya Beat Club (TBBC), program musik harian yang menjadi ruang ekspresi bagi musisi muda dan senior.

Markus menyebut nama-nama seperti Rendy Pandugo, Barasuara, Scaller, hingga SLANK, Keenan Nasution, dan Project Pop sebagai bagian dari perjalanan TBBC yang menurutnya menjadi ajang yang “bukan asal genjrang-genjreng, tapi ada arah dan kualitas.”

Menutup tulisannya, Markus menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam penyiaran publik bukanlah ketiadaan sumber daya, melainkan kemampuan menjaga arah, membuka ruang kolaborasi, dan mengelola keterbatasan menjadi keunggulan.

“Dengan membuka diri untuk kolaborasi, menjaga positioning, dan tak tergoda membelanjakan anggaran secara jor-joran, keterbatasan bisa berubah jadi keleluasaan,” tutupnya.

Unggahan Markus ini mendapat apresiasi luas dari kalangan pegiat media dan musik, serta mengundang diskusi publik tentang pentingnya keberadaan TVRI sebagai penyiar publik yang tetap relevan dan berdampak di tengah dinamika industri media yang kian kompetitif.