Jakarta, INDONEWS.ID - Masyarakat kita sejak dahulu menyuarakan kegelisahan lewat seni dan budaya, seni menyuarakan kegelisahan kita kenal sebagai kidung dan apa yang dirasakan itu hingga kini masih relevan. Musisi ternama Toto Towel bersama Pipit dan kelompok musik Pop Marjinal mengangkat lagi kidung tersebut dikemas apik dengan rock modern berbalut tradisi Betawi.
Para musisi tersebut merilis single album di 'Kandang Ayam', Rawamangun, Jakarta Pusat, dihadiri sejumlah tokoh musik nasional seperti Log Zhelebour, Ian Antono, dan mereka yang berkecimpung di industri musik nasional.
Menurut Pipit, lagu tersebut terinspirasi dari kenangan masa kecilnya yang akrab dengan nyanyian rakyat di berbagai acara adat.
“Waktu kecil, setiap ada pesta pernikahan di kampung, orang-orang selalu menyanyikan kidung itu bersama-sama. Lagu seperti ini enggak punya pencipta tunggal, karena memang lahir dari kehidupan rakyat sendiri,” tutur Pipit mengenang.
Ia mengaku, ide mengangkat kembali kidung rakyat berawal dari rasa prihatin terhadap tradisi musik daerah yang mulai tergerus zaman. “Banyak kidung yang sudah terkubur dan enggak pernah dinyanyikan lagi. Padahal di situ ada nilai-nilai kehidupan, semangat gotong royong, dan kejujuran rakyat kecil,” ujarnya.
Kemudian ia mengajak gitaris senior Toto Tewel untuk mengaransemen ulang lagu tersebut. Pertemuan keduanya menjadi titik awal terciptanya karya yang kini dikenal sebagai kolaborasi musik rakyat dan rock.
“Saya sudah lama tinggal di daerah Kramat, yang setiap hari bersinggungan dengan budaya Betawi dan ondel-ondel. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak kita gabungkan musik rakyat dengan ritme khas ondel-ondel? Jadilah perpaduan yang segar antara tradisi dan modernitas,” jelas Toto.
Lagu ini sebenarnya telah diciptakan sekitar tiga tahun lalu, namun versi aransemen barunya baru rampung pada Oktober 2024 berkat kerja sama dengan Pop Marjinal. Bagi Pipit, karya ini bukan sekadar lagu, melainkan cermin dari suara rakyat yang sesungguhnya.
“Kita sering dengar orang bicara atas nama rakyat, tapi kadang lupa mendengarkan suara rakyat itu sendiri. Lewat musik ini, kami ingin menyampaikan keresahan dan semangat rakyat apa adanya,” ungkapnya.
Sementara Toto Towel mengatakan, dirinya sudah lama tinggal di kawasan Kramat, yang setiap hari bersinggungan dengan budaya Betawi dan ondel-ondel. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak kita gabungkan musik rakyat dengan ritme khas ondel-ondel? "Jadilah perpaduan yang segar antara tradisi dan modernitas", tambahnya.
Menurutnya, pemilihan unsur ondel-ondel bukan semata estetika, tapi juga kedekatan emosional dan geografis.
“Saya lahir dan tumbuh di Jakarta. Ondel-ondel itu bagian dari hidup sehari-hari. Tapi bukan berarti kami menutup kemungkinan untuk menggandeng budaya lain. Kami sudah menyiapkan konsep musik dengan nuansa Ponorogo dan tradisi daerah lainnya,” ujar Toto.
Sebagai musisi lintas genre, Toto menganggap proyek ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi. “Saya pernah main dangdut, jazz, sampai rock. Buat saya musik itu enggak punya sekat. Yang penting jujur dan punya ruh,” katanya.
Kolaborasi ini, menurut Pipit, tidak dibuat untuk tujuan komersial. Mereka ingin masyarakat kembali mengenal dan menghargai kidung rakyat sebagai warisan budaya.
“Ini bukan proyek untuk cari untung. Kami cuma ingin mengingatkan bahwa setiap daerah punya suara sendiri, dan suara itu pantas untuk hidup lagi,” tegasnya.
Ke depan, mereka berencana melanjutkan proyek serupa dengan mengangkat kidung-kidung dari berbagai daerah lain dalam format modern.
“Kami ingin buktikan kalau musik tradisi bisa berjalan seiring dengan punk, rock, bahkan pop. Yang penting, nilai budayanya tetap dijaga,” tutup Pipit penuh semangat.