Jakarta, INDONEWS.ID – Serangan udara ‘Israel’ kembali mengguncang Lebanon. Kali ini, kamp pengungsi Palestina Ain al-Helweh, yang dikenal sebagai kamp terbesar di negara itu, menjadi sasaran pada Selasa malam, 18 November 2025. Sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas, sementara korban luka terus bertambah hingga Rabu dini hari.
Dentuman pertama yang menghantam kawasan dekat Masjid Khalid bin al-Walid memicu kepanikan hebat di dalam kamp yang padat penduduk. Lorong-lorong sempit yang biasanya dipenuhi suara anak-anak bermain seketika berubah menjadi jalur evakuasi darurat, diselimuti debu, kobaran api, dan teriakan meminta tolong.
“Asap tebal menutup langit, ambulans meraung tanpa henti. Tembakan peringatan bahkan dilepaskan agar mobil ambulans bisa bergerak,” ujar seorang saksi di lokasi menggambarkan kondisi yang “benar-benar kacau”.
Pemerintah Lebanon mencatat sedikitnya 13 orang tewas dalam serangan tersebut. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut angka korban masih berpotensi bertambah karena proses evakuasi masih berlangsung di tengah puing bangunan yang runtuh.
“Ambulans masih mengangkut lebih banyak korban luka ke rumah sakit terdekat,” demikian pernyataan resmi Kementerian Kesehatan.
Seorang koresponden AFP yang berada di lokasi melaporkan, petugas pemadam kebakaran berjuang menahan kobaran api yang naik dari lantai bawah salah satu bangunan yang terbakar. Beberapa meter dari sana, paramedis mengevakuasi bagian-bagian tubuh korban dari celah reruntuhan yang sulit dijangkau karena semua jalur tertutup puing.
Israel Klaim Target Hamas, Hamas Bantah
Militer ‘Israel’ mengklaim serangan itu menyasar sebuah “kompleks pelatihan Hamas” di dalam kamp Ain al-Helweh. Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh Hamas.
“Klaim itu kebohongan belaka. Tidak ada instalasi militer di kamp-kamp Palestina di Lebanon,” tegas Hamas dalam pernyataan resminya.
Menurut Hamas, serangan justru menghantam area lapangan olahraga terbuka yang biasa digunakan anak-anak muda untuk bermain. Laporan AFP menyebut masjid yang diklaim sebagai salah satu target tidak tampak mengalami kerusakan berarti, namun bangunan dan jalan di sekitarnya luluh lantak akibat hantaman serangan.
Serangan ke Ain al-Helweh menjadi bagian dari eskalasi agresi ‘Israel’ terhadap wilayah Lebanon sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023. Meski gencatan senjata disepakati pada November tahun lalu, serangan lintas perbatasan tetap kerap terjadi dengan dalih menargetkan lokasi yang disebut terkait kelompok Hizbullah, sekutu Hamas di Lebanon.
Hanya beberapa jam sebelum Ain al-Helweh diserang, dua orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel di wilayah lain di selatan Lebanon. Pada April lalu, serangan udara dini hari Israel di Sidon menewaskan seorang komandan Hamas bersama dua anaknya.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Lebanon menghadapi tekanan internasional—terutama dari Amerika Serikat—untuk melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata non-negara, termasuk Hizbullah dan sejumlah faksi Palestina.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya telah menyepakati bahwa senjata di kamp-kamp pengungsi “harus diserahkan kepada otoritas negara”. Namun hingga kini, Hamas belum mengumumkan langkah konkret pelucutan senjata, sementara operasi militer ‘Israel’ terus berlanjut.
Lebanon saat ini menampung sekitar 222.000 pengungsi Palestina. Berdasarkan kesepakatan lama, tentara Lebanon tidak masuk ke dalam kamp-kamp pengungsi, menjadikan kawasan padat seperti Ain al-Helweh rentan menjadi titik panas dalam konflik berkepanjangan di kawasan.
Hingga malam berganti dini hari, para relawan dan petugas penyelamat masih menyusuri lorong-lorong kamp yang dipenuhi jelaga, mencari korban yang mungkin masih selamat di antara reruntuhan.
Di kamp yang telah berdiri lebih dari tujuh dekade sebagai “rumah sementara” tanpa kepastian bagi pengungsi Palestina, serangan terbaru ini kembali menegaskan satu kenyataan pahit: konflik bersenjata jarang membutuhkan alasan rumit untuk kembali menghantam pintu-pintu yang paling rapuh.