Jakarta, INDONEWS.ID - Sejak ribuan tahun musik menjadi bagian kehidupan manusia, lewat musik apa yang kita rasakan, peristiwa yang kita alami tersalur lewat musik. Hingga saat ini musik jadi media 'ampuh' mengulang peristiwa yang pernah terjadi, ibarat reuni antar kita dengan peristiwa yang pernah ada. Komunitas pecinta musik tahun 80-an memilih kawasan Blok M merasakan kembali suasana 80-an dengan alunan nada dan suara penyanyi yang tenar di era tersebut. 

Digelar pada Sabtu malam (27/12), di CHRVS by The Factory, Pasaraya Blok M, acara ini menjadi penanda tutup tahun dengan cara yang tidak biasa. Bukan pesta besar dengan panggung megah, melainkan perayaan intim yang merayakan memori, lagu-lagu lama, dan interaksi hangat antar generasi.

Nama-nama seperti Sandro Tobing, Emile S. Praja, Eramono Soekarjo, Ichwan Thoha, hingga Ion “Saxo Dancer” Purnomo akan mengisi malam dengan karakter musikal yang kental akan nuansa 80-an. Mereka akan berbagi ruang dengan Kaset80an Band dan seleksi musik retro dari DJ Bugie Usman, menghadirkan suasana yang lebih mirip pesta rumah besar daripada konser formal.

Refida Herastuti penggagas acara dan sebagai pendiri kegiatan itu mengatakan, kegiatan tersebut merupakan edisi ke-4, awalnya di 2021. Tujuan dari Kaset80an selain tempat berkumpul generasi 80an, kita juga memberikan tempat musisi di era 80an.

"Mereka kita tetap berikan tempat hadir di masyarakat, dan kami juga melestarikan lagu atau karya di tahun 80-an. Tahun 80-an itu puncak atau jaya-jayanya musik di Indonesia maupun dunia", kilahnya. 

Suasana makin kental saat penyanyi lengedaris tampil, malam itu indonews.id menyaksikan Sandro Tobing yang tampil energik dengan busana yang memikat bergaya 80-an. Sekitar 10 lagu ia bawakan membuat suasana cafe kian terasa ada di era 80-an. Hal itu memang sengaja ditampilkan pendiri komunitas itu, menurutnya menghadirkan penyanyi legendaris Indonesia, tokoh musik, serta komunitas pecinta era 80-an. Tujuannya sederhana namun kuat: melestarikan lagu-lagu lawas sekaligus mengobati rindu pada masa keemasan musik Indonesia dan dunia.

"Kami memang menghadirkan para legend untuk berkiprah, hadir menemui para penggemarnya. Seperti Sandro Tobing, Emile S. Praja, Eramono Soekarjo, Ichwan Thoha, dan Kaset80-an punya kita", ungkapnya.

Acara bertajuk Kaset80-an bukan tanpa alasan, baginya kaset itu media yang mudah dibawa kemana-mana dan mudah diputar. Bahkan saat ini anak zaman sekarang kembali melirik kaset, bukan piringan hitam atau CD. "Mereka mencari kaset, bahkan dibuat ulang dengan aransemen baru", tambahnya. 

Pencinta musik 80-an tak hanya di Jakarta namun tersebar di seluruh nusantara bahkan dunia, untuk itu Refida berniat menebarkan 'virus' musik 80-an ke luar daerah. Rencananya kota pertama yang akan 'ditulari' Bogor, lalu Semarang dan Medan. Realisasi itu kemungkinan di tahun depan atau 2026.

Ia pun berharap digelarnya Kaset80-an, bisa mengembalilkan dan bisa lebih eksis lagi di Indonesia, bahkan bila memungkinkan bisa membawa ini sebagai misi budaya ke luar negeri, dimana banyak warga Indonesia di sana yang rindu musik tahun 80-an. Semoga ada pihak-pihak yang peduli seperti komunitasnya yang membangkitkan lagi musik lawas dan musisinya.