Jakarta, INDONEWS.ID - Persia punya sejarah gemilang namun kekuasaannya runtuh hanya dalam 25 tahun, kenapa? Jatuh karena keangkuhannya. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Asep Usman Ismail MA, pembicara di kajian Islam Babussalam, di mesjid Pondok Indah, Jakarta, Kamis (09/04).
Acara tersebut selain menimba ilmu juga ajang halal bihalal komunitas itu, dimana anggotanya kebanyakan warga perumahan Pondok Indah dan sekitarnya. Hadir pula Pemred indonews.id Asri Hadi. Selain Prof. Asep, materi diisi juga oleh Abu Marlo, pembicara langganan komunitas Babussalam.
Menurut Asep, kejayaan Persia di abad itu lumayan besar, bahkan mereka mampu menaklukan kerajaan Romawi yang saat itu merupakan kekaisaran yang punya wilayah luas. Bangsa Persia itu banyak pemikir bagus, mereka dikenal sebagai ras Aria kini beriami di Jerman. Kita tahu bagaimana unggulnya teknologi Jerman.
Persia itu bukan Arab namun berubah menjadi bagian Timur Tengah, hal itu terjadi saat zaman Rasulullah. Ada 4 yang berubah menjadi ke-Arab-an di zaman itu, huruf Persia menjadi Arab meski bahasanya tetap Persia, Turki dan Indonesia pun menjadi Arab tulisannya.
Menurutnya, saat itu Nabi punya duta-duta untuk berhubungan di wilayah lain, Rasulullah pun mengirim duta guna menyampaikan surat permintaan pada raja Persia untuk meninggalkan menyembah cahaya (zoroster-red). Tapi apa jawaban raja Persia, ia merobek-robek surat Nabi, dan menjawab "kamu hambaku malah meminta itu", dan mengusir utusan Rasulullah.
Mengetahui hal itu, Rasulullah pun berdoa, inilah doa yang paling keras yang pernah diucapan, "biarlah Persia menjadi seperti surat yang dirobek". Menurut Asep, Nabi tak pernah berdoa sekeras itu, bahkan saat berdoa Nabi meneteskan air mata.
Hanya dalam waktu 25 tahun wilayah Persia terpecah-pecah, sementara Romawi runtuhnya dalam waktu 800 tahun, Turki pun begitu karena mereka mengikuti apa yang disarankan Rasulullah dan menghormatinya.
Sementara Abu Marlo membahas manusia takwa, menurutnya ujung dari kita menjalankan semua perintah agama adalah takwa. Menjalankan itu semua bukan untuk orang lain tapi untuk diri kita pribadi, takwa itu implementasinya pada kehidupan sosial.
"Kita sholat tapi menyalahkan orang lain itu bukan bertakwa, usai sholat kita harus menjadi pribadi yang lebih baik. Kita menjalankan perintah agama untuk kita berubah menjadi pribadi yang baik, buat orang di sekitar kita, dan untuk masyarakat luas", ungkapnya.
Lalu, ia mengatakan, setiap sholatt kita selalu memberi salam, apa arti salam? Artinya kedamaian. Islam itu membawa kedamaian, bukan menyalah-nhalahkan pihak lain, dan kita jangan punya keinginan merubah orang lain, ketidaktahuan kita lebih banyak dari apa yang kita tahu.
Ia pun meminta yang hadir untuk tidak lagi menyalahkan orang lain atau ingin merubah orang lain, tapi diri sendiri yang harus berubah. Kita semua tidak berbeda soal pengetahuan, maka mulai hari ini bila ada orang suka marah atau omongannya kasar, kita katakan saja "programnya memang begitu".
Acara halal bihalal kajian Islam Babussalam pun berakhir, seluruh komunitas saling memaafkan dan mendapat dua pengetahuan bagus di silaturahmi Idul Fitri tahun ini, semoga kita semua makin menjadi pribadi yang baik dan tak lagi melihat orang lain salah serta menerima perbedaan.